Setidaknya, itulah pertanyaan yang dicetuskan oleh Masyarakat Transporatasi Indonesia (MTI). Lembaga Swadaya Masyarakat ini melihat, terutama di Jakarta, event Internasional seperti KTT ASEAN justru hanya dimanfaatkan untuk ujicoba dan menjustifikasi manajemen transportasi yang bersifat permanen.
“Jakarta dan kota-kota besar lainnya sudah harus siap menjadi kota jasa di mana pelayanan publik harus menjadi prioritas dan tiap kegiatan berlangsung di kota tersebut tidak boleh menggangu kelancaran aktivitas warga lainnya,” kata Danang Parikesit, Ketua MTI dalam rilis yang diterima Okezone, Senin (3/10/2011)
Sering juga dijumpai saat pertandingan sepakbola atau kegiatan bersifat massal lainnya, kondisi lalu lintas menjadi lumpuh akibat tidak adanya rencana manajemen transportasi dan lalu lintas yang jelas.
Karenanya, MTI merekomendasikan bahwa proses perizinan untuk suara acara sudah saatnya diperhatikan, bagaimana penyelenggara membuat manajemen transportasi dan lalu lintas pada saat acara yang mencangkup pengaturan arus menuju tempat acara dan arus lalu lintas di sekitar tempat acara, termasuk pera angkutan umum dalam menunjang pelaksanaan acara.
MTI juga meminta diperlukan adanya standard operating procedures ataupun panduan dalam perencanaan manajemen transportasi untuk event sudah seharusnya disusun oleh pemerintah dan instansi berwenang lainnya untuk mengatasi kekacauan lalu lintas.
Sementara terkait pelaksanaan SEA Games di Palembang dan Jakarta, MTI merekomendasikan kepada panitia penyelenggara SEA Games pemerintah kota Palembang, Provinsi Sumatra Selatan dan Pemerintah DKI Jakarta untuk melakukan rencana pengaturan lalu lintas pada saat acara berlangsung dan petunjuk rute menuju tempat pertandingan, serta pengalihan rute pengalihan lalu lintas secara jelas.
MTI juga meminta agar Pemerintah di kedua kota tersebut membangun integrasi serta kerja sama dengan tranportasi publik milikpemerintah seperti Transmusi di Palembang dan Transjakarta untuk menjangkau tempat acara. Pembatasan parkir untuk kalangan umum menjadi hal terpenting. Sejatinya hanya kendaraan VIP dan logistik saja yang boleh diparkir di areal pertandingan,
MTI pun mencermati, pemerintah di kedua kota juga membuka lokasi park & ride yang dilayani oleh shuttle ekspress dengan kapasitas besar dengan frekuensi tinggi untuk menuju ke lokasi acara untuk mengakomodasi tingginya animo pengunjung.
Sedangkan di kota Palembang, pada saat opening dan closing caremony perlu diberlakukan pembatasan kendaraan agar dapat melintasi jembatan Ampera untuk menghindari adanya bottle neck di jembatan menuju stadion Jakabaring. Selain itu, pihak panitia harus memberikan prioritas terhadap atlet dan ofisial menuju ke arena pertandingan.
Subscribe to email feed



